Stadium Generale, Prof. Dr. K.H. Mohammad Nuh, DEA.

Seluruh mahasiswa serta dosen Universitas Nahdlatul Ulama Blitar sangat antusias dalam acara kuliah umum bertajuk “Berkhidmah Melalui Layanan Pendidikan Terbaik Menuju 100 Tahun NU” oleh Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA yang bertempat di gedung aula kampus 1 pada Sabtu, 03 Maret 2018. Acara ini juga dihadiri oleh kepala BPPT dan seluruh pejabat struktural Universitas Nahdlatul Ulama .

Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 17 Juni 1959. Beliau merupakan salah satu Menteri pada masa kepemimpinan Presiden Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2009-2014) dan Menteri Komunikasi dan Informatika (2007-2009), serta pernah menjabat sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (2003-2007) dan menjadi Rektor termuda dalam sejarah ITS. Dalam riwayat pendidikan, beliau menempuh studi S2 dan S3 di Universitas Montpellier, Perancis serta studi S1 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. (sumber: Wikipedia.org).

Kegiatan kuliah umum dimulai pukul 09.30 yang dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara bersama-sama dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Syubbanul Whaton. Kemudian, dilanjutkan sambutan oleh Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M. Pd Selaku Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Blitar menyampaikan terimakasih kepada Bapak Mohammad Nuh. Karena telah meluangkan waktu hadir di aula kampus 1 Universitas Nahdlatul Ulama Blitar untuk berbagi pengalaman dan keilmuan dalam rangka menyiapkan generasi emas NU di 100 tahunnya menuju tahun emas Indonesia (2045). Beliau juga menyampaikan, meskipun Universitas Nahdlatul Ulama Blitar masih baru saja berdiri, namun prospek Universitas Nahdlatul Ulama Blitar ditahun emas Indonesia (2045) adalah menjadi salah satu bagian terpenting dalam mencetak generasi emas tersebut. Sekarang Universitas Nahdlatul Ulama Blitar masih dalam masa berkembang, namun pada saatnya akan sama dengan Universitas Oxford di Inggris yang menyandang predikat universitas terbaik di dunia walaupun tergolong swasta.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan langsung oleh Bapak Mohammad Nuh sendiri. Dalam materi yang disampaikan beliau terdapat beberapa point tentang pentingnya membaca fakta dan memaknainya. Beliau juga menganalogikan dengan bangkrutnya beberapa perusahaan besar, karena tidak adanya adaptasi dan inovasi pada perusahaan tersebut sehingga tidak mampu menjawab tantangan zaman. Fakta-fakta juga beliau paparkan mengenai 10 orang terkaya di Indonesia dan hanya 1 orang yang beragama Islam, padahal seperti yang kita ketahui bahwa Islam merupakan agama mayoritas di negara Indonesia tercinta ini. Dari situlah beliau memaparkan potensi yang dimiliki NU dalam menjawab tantangan zaman dengan membaca fakta dan memaknainya.

Kemudian, beliau menyampaikan cita-cita ideal NU pada abad Ke-21. Disini beliau menjelaskan grafik populasi usia produktif NU dan peluang kejayaan yang dimiliki NU di abad pertama yang dilalui NU. Pemanfaatan digital dividen juga sangat penting untuk memperkuat organisasi NU. Beliau juga menggunakan prinsip percepatan dan menganalogikannya dengan lomba balap motor GP. “Perhatikan ketika balapan motor GP. Para peserta bisa mendahului peserta lain ketika berada pada posisi tikungan. Jika pada posisi lurus, mereka mempunyai kelajuan yang sama maka dari itu sulit untuk mendahului satu sama lain” ujar beliau. Jadi, beliau menyimpulkan percepatan sebagai kunci dan perubahan sebagai ruh.

Beliau mengakhiri kuliah umum dengan sebuah kalimat, bahwa “Setiap Generasi memiliki tugas kesejarahan sesuai zamannya. Ukirlah setiap lembar sejarah dengan prestasidan memberikan gambar grafik pergeseran kebutuhan dasar. Beliau juga mengajak para audiens untuk berpikir apa yang harus kita lakukan sekarang, jawabannya tidak lain dan tidak bukan yaitu membaca fakta dan memaknai dengan sebaik-baiknya.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *