Blitar – Dilatarbelakangi rasa penasaran tingkah laku unik kelinci yang memakan kotorannya sendiri untuk memenuhi nutrisinya, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian (PKM-P) melakukan penelitian untuk mengetahui mikroorganisme yang terkandung dalam kotoran lunak kelinci tersebut.


Penelitian yang didanai oleh Kemenristekdikti tersebut dilaksanakan di laboratorium FPIK Universitas Brawijaya (UB) Malang selama tiga bulan. Mulai bulan April hingga Juli 2019. Penelitian ini mengambil judul ‘Isolasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Uji Aktivitas Anti-bakterinya’.

Penelitian yang dilakukan oleh tiga mahasiswa yakni Ahmad Baitul Sulton, Husna Fikriya, dan Siti Ropida dengan Lestariningsih, S.Pt., M.P. sebagai dosen pembimbing ini, mengharapkan dengan ditemukannya Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam feses lunak kelinci, di masa mendatang BAL melalui proses penelitian yang lebih lanjut dapat dikembangkan sebagai probiotik. Probiotik tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas ternak kelinci.

“Tim ini memiliki tujuan untuk mengisolasi mikroorganisme yang diduga Bakteri Asam Laktat dari kotoran lunak kelinci. Kemudian menguji hasil isolasi tersebut terhadap bakteri Salmonella typhi dan Escherichia coli untuk mengetahui daya hambatnya terhadap kedua bakteri patogen tersebut,” ungkap Ahmad Baitul Sulton, Senin (29/7/2019).

Dijelaskan, hasil penelitian ini diperoleh bakteri yang berbentuk basil (batang) dominasi dari kelompok bakteri gram positif yang bersifat apatogen (tidak berbahaya bagi kesehatan). Namun, belum bisa dikategorikan dalam lactobacillus karena masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemampuannya dalam mencerna laktosa. Sedangkan, hasil uji daya hambat menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dan Escherichia coli.

Lanjut dia, Probiotik sangat bermanfaat sekali terhadap makhluk hidup, baik itu manusia maupun hewan. Probiotik mampu menggantikan peran antibiotik untuk menghadapi bakteri buruk (patogen). Bedanya probiotik hanya menyeimbangkan jumlah antara bakteri baik (apatogen) dan bakteri buruk (patogen), sedangkan antibiotik dapat membunuh keseluruhan bakteri baik itu baik maupun buruk dan efek jangka panjangnya sangat menakutkan yaitu terjadinya resistensi antibiotic yang mampu menciptakan bakteri patogen super yang kebal (resisten) dengan antibiotic.

“Mengetahui sekarang kita sudah mengetahui banyaknya manfaat dari probiotik dan gencarnya penelitian untuk menemukan berbagai strain BAL, kami selaku akademisi sector peternakan tak ingin ketinggalan terhadap hal tersebut. Berawal dari rasa penasaran terhadap kelakuan unik kelinci tersebut kami yakin ini merupakan langkah awal bagi kami untuk menciptakan probiotik Sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak itu sendiri,” pungkas Sulton.
Source: BlitarTimes