Gebyar Bulan Bahasa merupakan bentuk apresiasi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Blitar terhadap lahirnya bahasa Indonesia 91 tahun lalu. Tepatnya, pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia lahir di bumi pertiwi yang diprakarsai oleh para pemuda dalam peristiwa besar yang diberi nama Kongres Pemuda. Sudah selayaknya, sebagai para cendekia yang berkecimpung di dunia bahasa, pegiat bahasa, dan mahasiswa jurusan bahasa turut serta menyambut gegap gempita lahirnya bahasa pemersatu tersebut. Acara Gebyar Bulan Bahasa Universitas Nahdlatul Ulama Blitar kali ini lahir dari rahim kreativitas mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kolaborasi apik dari kedua jurusan tersebut menghasilkan serangkaian acara yang cukup meriah. Lazimnya, pelaksanaan peringatan Bulan Bahasa yang dilaksanakan pada bulan Oktober yang bertepatan dengan lahirnya bahasa Indonesia oleh instansi atau kampus. Peringatan Bulan Bahasa di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar mengambil jalan yang berbeda. Bulan Bahasa di UNU Blitar dilaksanakan pada bulan Desember.  Yahhh, memang sangat terlambat, kata pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Hal tersebut yang mendorong kedua prodi untuk tetap melaksanakan acara Gebyar Bulan Bahasa tersebut. Walaupun pelaksanaannya tidak pada bulan yang semestinya, toh terbukti tidak mengurangi kekhidmatan dan kesakralan acara peringatan lahirnya bahasa pemersatu tersebut.

Gebyar Bulan Bahasa kali ini mengusung tema “Bersatu Bersama Bahasa, Sastra, dan Budaya di Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja”. Tema tersebut menyiratkan banyak makna. Bahasa, sastra, dan budaya merupakan aspek yang cukup kompleks dan menarik untuk dibedah. Tampaknya, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menangkap interkoneksi dari ketiga bidang keilmuan itu yang sebenarnya ketiganya satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Ketiganya merupakan produk eklektisme dari saripati-saripati keilmuan sosial, sehingga memunculkan proposisi dalil “Bahasa dan budaya itu bagaikan satu keping mata uang”. kalau dibedah proposisi dalil itu, di  satu keping mata uang terdapat dua sisi.  Dua sisi tersebut di sekeping mata uang sangat berharga. Kalau satu sisi hilang uang tersebut tentunya tidak akan bisa digunakan sebagai alat tukar. Hal tersebut sama dengan bahasa dan budaya. Kalau belajar suatu bahasa secara otomatis belajar juga budayanya. Hal itulah yang mejadi landasan fundamental para cendekia bahasa dan mahasiswa jurusan bahasa, sehingga tema yang diusung pada acara Gebyar Bulan Bahasa relevan dengan kondisi keilmuan bahasa saat ini. Lalu, pada tema Panitia menyematkan frasa dari bahasa Sanksekerta “Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja” yang mungkin tidak banyak orang tahu, bahkan orang Blitar sendiri.  Sepintas, dari frasa tersebut jika dicermati merupakan kepanjangan dari nama Kota Blitar. Frasa tersebut juga mengandung arti yang cukup mendalam. Secara harfiah frasa tersebut bermakna ‘tempat pusara Raja-Raja’.

Rangkaian acara pada acara Gebyar Bulan Bahasa ini cukup menarik. Acara tidak hanya menampung kreativitas berkesenian yang sifatnya islami saja, dalam arti seni yang berunsur islam, seperti sholawat, hadrah, atau nasyid. Hal tersebut menarik untuk disampaikan karena banyak persepsi yang terlampu mendeskreditkan Universitas-Universitas yang berafiliasi dengan organisasi islam, seperti Muhammadiyah atau pun Nahdlatul Ulama terlalu rigid dan terkesan antimodern. Hal tersebut ditepis dengan apik oleh para mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Bahasa Inggris melalui kreativitas yang ditampilkan dalam acara tersebut. Acara yang disuguhkan dari pelbagai genre seperti menyanyikan lagu pop, menyanyikan lagu ambyar, tampilan tari modern maupun tradisonal, dan lain sebagainya. Pada intinya, panitia menampung semua jenis kreativitas seni asalkan masih dalam koridor kesopanan dan etika yang berlaku di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Akhirnya, dari kolaborasi antara, modern, tradisional, dan seni islami berjalinkelindan menghasilkan kreasi seni yang menarik untuk dinikmati. Tidak hanya itu, ada juga tampilan seni berbasis kesastraan seperti, musikalisasi puisi dan drama. Hal tersebut dalam peringatan bulan bahasa sudah menjadi tradisi wajib karena seni puisi dan drama merupakan roh dari bahasa yang harus hadir memeriahkan acara peringatan Bulan Bahasa. Secara keseluruhan acara sanagt menarik. Tidak lupa, tradisi milenial selesei acara harus mengabadikan momen. Semua dosen yang hadir, baik dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Wakil Rektor dan Ketua Program Studi (Kaprodi) berfoto bersama. Purna acara dilakukan dengan santap bersama ala santri, yakni satu nampan banyak tangan untuk membangun keakraban satu sama lain. Sampai jumpa di Gebyar Bulan Bahasa tahun depan.