Secara istilah, Isra’ adalah perjalanan Rasulullah Shallallahu‘Alaihi Wasallam pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Mi’raj secara bahasa artinya adalah naik. Secara istilah adalah naiknya Rasulullah Shallallahu‘Alaihi Wasallam ke sidratul muntaha. Sidratul muntaha adalah tempat tertinggi di langit yang menjadi batas ujung pengetahuan dan amal aktifitas para makhluk. Tidak seorang makhluk pun mengetahui apa yang ada di belakangnya. Tempat ini diserupakan dengan as sidrah yang artinya pohon nabk karena mereka berkumpul di bawah teteduhannya. Di dekat sidratul muntaha ada surga Al Ma’wa yakni tempat tinggal arwah orang-orang mukmin yang bertaqwa. Adapun hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebagai berikut :

  1. Setelah cobaan datang silih berganti, bahkan Rasulullah mengalami tahun duka cita, Allah memberinya tasliyah (hiburan) dengan Isra’ Mi’raj ini.
  2. Rasulullah memilih susu untuk beliau minum sebelum Mi’raj lalu Jibril memujinya. Ini menguatkan bahwa Islam adalah agama fitrah dan kesucian.
  3. Shalat Rasulullah bersama para Nabi di Baitul Maqdis menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para Nabi.
  4. Sesungguhnya Masjid Al Aqsha memiliki kaitan erat dengan Masjidil Haram. Masjid Al-Aqsha merupakan tempat Isra’ Rasulullah dan kiblat pertama umat Islam. Karenanya umat Islam harus mencintai Masjid Al-Aqsha dan mempertahankannya dari segala upaya penjajah Yahudi yang hendak merusaknya.
  5. Urgensi shalat dan kedudukannya yang agung. Jika perintah lain cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, perintah shalat langsung diturunkan Allah kepada Rasulullah tanpa perantara Jibril. Shalat ini pula yang menjadi inti tasliyah (hiburan) bagi hamba-Nya. Rasulullah hendak mencapai fase baru yakni hijrah dan mendirikan negara Islam di Madinah. Maka Allah memurnikan barisan dakwah dengan Isra’ Mi’raj. Orang-orang yang tidak kuat aqidahnya dan mudah goyah keyakinannya, mereka murtad setelah diberitahu tentang Isra’ Mi’raj. Adapun yang imannya kuat, mereka justru semakin kuat imannya.
  6. Keberanian Rasulullah SAW sangat tinggi dalam berdakwah dengan menyampaikan isra miraj kepada mereka. Meskipun mereka tidak akan percaya bahkan mencemooh dan mengolok-olok, Rasulullah tetap menyampaikan bahkan beliau memberikan bukti-bukti empiris kepada kafir Quraisy meskipun mereka justru menuduh beliau sebagai tukang sihir.
  7. Keimanan umat yang paling sempurna adalah imannya Abu Bakar. Ketika orang-orang kafir Quraisy mengabarkan bahwa Muhammad mengatakan telah Isra Mi’raj, beliau langsung mempercayainya. “Jika yang mengatakan Rasulullah, aku percaya,” demikian logika keimanan Abu Bakar sehingga beliau mendapat gelar Ash Shiddiq.
  8. Rasulullah menyampaikan bahaya penyakit masyarakat yang dilihatnya. Beliau diperlihatkan bagaimana siksa untuk orang yang suka ghibah, orang yang berzina, orang yang makan harta anak yatim, dan lain-lain.
  9. Para sahabat menjadi perhatian terhadap Masjid Al-Aqsha yang saat itu berada dalam kekuasaan Romawi. Kelak di masa kekhalifahan Umar Bin Khattab, Masjid Al-Aqsha bisa dibebaskan.

Oleh

Yuni Sulistiawati
Mahasiswa Prodi Ilmu Komputer Semester II
Universitas Nahdlatul Ulama Blitar