UNU Blitar Rayakan Harlah ke-9, Tegaskan Tradisi dan Langkah ke Depan dengan Pembangunan Gedung Baru
Blitar – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar Hari Lahir (Harlah) ke-9 di Kampus 2 Srengat, Kabupaten Blitar, Minggu (31/8/2025). Mengusung tema 9 Tahun Berdampak, Berakar dalam Tradisi, Berpijak di Masa Depan, acara ini menjadi momentum penting bagi UNU Blitar dalam memperkuat peran pendidikan sekaligus menegaskan arah pengembangan kampus di masa depan.
Peringatan Harlah tidak hanya dihadiri civitas akademika, tetapi juga jajaran pengurus NU Kabupaten Blitar dan Ketua PBNU. Rangkaian kegiatan meliputi prosesi peletakan batu pertama pembangunan gedung perkuliahan baru di Kampus 2, serta pemberian penghargaan kepada dosen-dosen berprestasi.
Badan Pelaksana Pengelola (BPP) UNU Blitar menyebut bahwa usia ke-9 menjadi simbol keberlanjutan kontribusi kampus. “Sejak berdiri pada 31 Agustus 2016, UNU Blitar telah menorehkan banyak prestasi dari mahasiswa hingga dosen. Usia ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa UNU Blitar berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar BPP UNU Blitar.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Blitar, Ky. Muqorrobin, menegaskan bahwa eksistensi UNU Blitar telah berakar kuat di tengah masyarakat. “UNU Blitar bisa menjadi kampus tujuan bagi anak-anak Blitar. Mereka tidak perlu kuliah jauh karena UNU sudah terbukti kualitasnya, baik secara akademik maupun keislaman,” tuturnya.
Rektor UNU Blitar, Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag., menambahkan bahwa pembangunan gedung baru dan penghargaan kepada dosen berprestasi adalah wujud nyata pijakan ke masa depan. “Harapan besar untuk UNU Blitar, semoga semakin berjaya, terus melahirkan generasi penerus bangsa, dan tetap berakar dalam tradisi sambil berpijak kokoh di masa depan,” katanya.
Dengan tema 9 Tahun Berdampak, Berakar dalam Tradisi, Berpijak di Masa Depan, UNU Blitar menegaskan komitmennya untuk menjadi pusat pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kualitas akademik, tetapi juga berakar pada nilai-nilai tradisi dan mampu menjawab tantangan zaman.
Farah Nurul Nabila