Pusat Studi Manuskrip (PUSMAN) UNU Blitar Berburu Manuskrip Syathoriyah di Markaz Syathoriyah Mataraman Kediri
Rabu (03/12/2025) Pusat Studi Manuskrip (Pusman) UNU Blitar kali ini berburu manuskrip di Markaz Tarekat Syathoriyah Mataraman di Papar, Kediri—di mana bulan November kemarin berburu manuskrip di Jetis, Ponorogo. Manuskrip yang dicari dan hendak diteliti serta digitalisasi tersebut adalah karya-karya mursyid Tarekat Syathoriyah di Nusatara. Pusman diterima langsung oleh Kiai Sulaiman (Mursyid Tarekat Syathoriyah), Kiai Hasib Rosyadi, M. Pd dan Gus Hanif Fathoni (keduanya adalah Peneliti Manuskrip Tarekat Syathoriyah Mataraman).
“Pusman fokusnya tidak hanya manuskrip-manuskrip di Blitar Raya saja tetapi juga di wilayah-wilayah yang lain, dan lintas disiplin ilmu. Insyallah ke depan, kami akan bergerak ke arah penahkikan dan penerbitan karya-karya tersebut. Ini penting karena dengan meneliti manuskrip tersebut, kita akan tahu kontribusi ulama-ulama terdahulu dalam penyebaran Islam di Nusantara, serta mengetahui jejaring keilmuan yang mereka bangun selama ini,” terang Direktur Pusman, Fuad Ngainul Yaqin, M.Ag.
Senada dengan itu, Dr. Arif Muzayin Sofwan menambahi, “Sudah 2 tahun ini, sebenarnya para Mahasiswa Ilmu al-Quran dan Tafsir melakukan penelitian manuskrip Tafsir al-Quran di Blitar Raya untuk dijadikan tugas akhir/skripsi. Karena memang, salah satu ciri khas prodi IAT di UNU Blitar adalah kajian kemanuskripan. Saya selaku Dekan, mensuport dan menfasilitasi sebisa mungkin. Dan, ini yang kita butuhkan: branding ciri khas masing-masing prodi, biar ada pembeda dengan prodi-prodi di kampus lain,” pungkasnya.
Alhamdulillah, dalam pertemuan ini, teridentifikasi dan terkumpul berbagai manuskrip ulama-ulama Syathoriyah yang siap digitalisasi. Ini semakin menegaskan bahwa ciri khas Tarekat Syathoriyah tidak sekadar wirid saja, tetapi juga dihiasai dengan kajian-kajian ilmu tasawuf. Sekaligus membuktikan, ternyata para mursyid tarekat Syathoriyah juga produktif berkarya.
Semoga dengan berburu manuskrip ini, semakin menyadarkan kita bahwa mengapresiasi dan melestarikan karya-karya ulama Nusantara termasuk bagian menjaga identitas tradisi kita. [HA]