Dosen UNU Blitar Lakukan Riset Jejak Pesantren Brebesmili Era Mataraman

Blitar — Kamis (06/02/2026) dosen UNU Blitar melakukan riset jejak histori Pesantren Brebesmili, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Kegiatan riset ini pertama kali dengan berziarah mengunjungi makam para tokoh ulama Pesantren Brebesmili di Pemakaman Auliya Brebesmili Santren yang terletak di pinggiran sungai Brantas desa tersebut. Beberapa tokoh utama yang dimakamkan, yaitu Syaikh Abdullah Sya’ban (Mbah Kiai Gembrang Serang), Syaikh Muhammad Asrori (Mbah Kiai Kedung Cangkring), Syaikh Hasan Mujahid (Mbah Kiai Brebes Mili), dan Sayyid Bukhori Mukmin (Mbah Kiai Ponco Suwiryo).

Menurut Drs. Raden Insanu Widodo, M.Pd sejarawan Srengat bahwa keberadaan Pesantren Brebesmili yang didasarkan pada data peta kuno Residentie Kediri tahun 1866 diperkirakan berdiri sekitar tahun 1820-an, di mana kala itu Srengat masih menjadi sebuah kabupaten. Catatan peta kuno tersebut bersumber dari Centrale Boeker Poor de Trepen Amsterdam. Menurutnya, jika dipelajari dari peta kuno dari pemerintahan Kolonial Hindia Belanda tersebut, tampak santri yang bermukim di seputar Pesantren Brebesmili setara dengan penduduk yang bermukim di Desa Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pesantren Brebesmili dahulu memang sangat besar di zamannya.

“Kenapa pesantren ini dahulu termasuk sangat besar?. Sebab setelah berakhirnya perang Pangeran Diponegoro tanggal  28 Maret 1930 lingkungan Pesantren Brebesmili dibanjiri oleh para imigran yang terdiri dari berbagai strata sosial, mulai dari bangsawan, kiai, laskar, pedagang, priyayi, dan rakyat jelata. Para imigran kala itu juga menutup diri dari identitasnya agar tidak diketahui oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Para imigran pasca perang Pangeran Diponegoro yang bermukim di lingkungan Pesantren Brebesmili akhirnya juga menuntut ilmu pengetahuan di pesantren tersebut”, ungkap Drs. Raden Insanu Widodo, M.Pd.

Komplek Pemakaman Auliya Brebesmili Santren yang beberapa kali pernah diziarahi oleh Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) mantan Presiden Republik Indonesia keempat ini selalu digunakan beberapa komunitas untuk melakukan istigatsah, mujahadah, dan kegiatan keagamaan lainnya. Beberapa kegiatan rutin di Pemakaman Auliya Brebesmili, antara lain: Semaan Al-Quran & Dzkirul Fatihin setiap hari Rabo Kliwon, Majelis Dzikir dan Tahlil setiap malam Jumat Legi, Majelis Alif setiap malam Rabu Legi, pujian Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) setiap hari Kamis Wage, serta beberapa kegiatan tahlil dari para penziarah berbagai daerah.