UNU Blitar Gelar Workshop Transformasi Layanan BK Berbasis Al, Dorong Peningkatan Studi Lanjut Siswa

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar workshop bertajuk "Transformasi Layanan Bimbingan dan Konseling di Era Digital dan Kecerdasan Buatan: Strategi Adaptif dalam Mendukung Kesehatan Mental, Karier, dan Keputusan Studi Lanjut Siswa" pada Kamis (23/4/2026) di Aula Lantai 3 Kampus I. Kegiatan ini diikuti guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA/MA/SMK se-Kabupaten dan Kota Blitar serta dirangkai dengan sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNU Blitar 2026.

Wakil Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNU Blitar, Dr. Puji Wianto, M.Pd dalam sambutannya menegaskan peran strategis guru BK dalam mendampingi siswa, khususnya dalam menentukan masa depan pendidikan.

"Guru BK harus mampu memberi motivasi. Siswa yang ingin bekerja tetap bisa didorong untuk kuliah sambil bekerja. Apalagi peluang kerja bagi lulusan sarjana tentu lebih besar," kata Puji.

la menambahkan, meskipun siswa memilih langsung bekerja setelah lulus, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk mendorong budaya belajar sepanjang hayat.

"Boleh bangga anak didik bekerja, tetapi harus terus diingatkan untuk tetap belajar. UNU Blitar menjadi salah satu pilihan tepat untuk melanjutkan studi," katanya.

Sementara itu, narasumber utama, Dr. Nailatin Fauziyah, S.Psi, M.Si. M.Psi.Psikolog, dosen Program Studi Magister Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya, menekankan bahwa transformasi layanan BK menjadi keniscayaan di tengah disrupsi teknologi digital dan meningkatnya kompleksitas persoalan siswa.

"Era digital telah mengubah cara siswa belajar sekaligus meningkatkan kebutuhan layanan yang cepat, personal, dan responsif. Di sisi lain, tantangan kesehatan mental juga meningkat dan membutuhkan pendekatan inovatif," ujarnya.

la menjelaskan, kecerdasan buatan (Al) dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam layanan BK, seperti melalui chatbot untuk konseling dasar, analisis minat dan bakat, hingga rekomendasi karier dan studi lanjut berbasis data.

"Al memungkinkan layanan real-time dan membantu guru BK mengambil keputusan berbasis data yang lebih akurat, termasuk dalam memetakan potensi siswa," katanya.

Nailatin juga menyoroti pergeseran paradigma layanan BK dari yang semula reaktif menjadi proaktif. Dengan dukungan teknologi, layanan konseling tidak hanya menangani masalah yang sudah muncul, tetapi juga mampu melakukan deteksi dini terhadap potensi masalah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan hybrid counseling, yaitu kombinasi layanan tatap muka dan digital.

"Pendekatan hybrid memberikan fleksibilitas sekaligus menjaga kualitas interaksi. Ini menjadi model layanan BK yang relevan di era digital," ujarnya.

la juga mengingatkan pentingnya literasi digital, peningkatan kompetensi guru BK, serta perlindungan data dalam implementasi layanan berbasis teknologi.

"Pemanfaatan Al harus dipahami sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Sentuhan empati tetap menjadi inti dalam layanan konseling," katanya.

Melalui kegiatan ini, UNU Blitar berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara sekolah dan perguruan tinggi dalam memperkuat layanan BK yang adaptif, sekaligus meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi di wilayah Blitar di tengah tantangan era digital.