Dosen UNU Blitar Angkat Relief Candi Penataran Jadi Motif Batik Sritanjung
Tim dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar mengembangkan inovasi Batik Sritanjung dengan mengadaptasi relief kisah Sri Tanjung yang terpahat di Candi Penataran, Kabupaten Blitar. Inovasi ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang memadukan pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, serta pemberdayaan perajin dan pemuda putus sekolah.
Program bertajuk “Sritanjung dalam Sehelai Kain: Inovasi Seni Batik Berbasis Relief Candi Penataran sebagai Representasi Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Banyuwangi” tersebut menggandeng Batik Muktiyasa di Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra utama dan PKBM Mamba’ul Huda sebagai mitra pemberdayaan masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Agus Hermawan. M.Pd dosen sekaligus Ketua Program Studi Bahasa Indonesia UNU Blitar, mengatakan program tersebut berupaya membawa kekayaan sejarah yang tersimpan dalam relief candi ke dalam medium seni yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Relief Candi Penataran bukan hanya peninggalan sejarah. Di dalamnya terdapat narasi dan ingatan budaya yang sangat kaya. Kami ingin mentransformasikan kekayaan visual itu ke dalam motif batik sehingga sejarah dapat terus hidup sekaligus memberikan nilai tambah bagi perajin,” kata Agus.
Gagasan tersebut berangkat dari keberadaan relief Sri Tanjung di Candi Penataran yang menyimpan sumber visual mengenai kisah Sri Tanjung. Sementara itu, Lontar Sri Tanjung telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 2024.
Dalam program ini, figur, simbol, dan struktur visual pada relief akan dikaji dan distilisasi menjadi motif batik. Tim UNU Blitar akan mendampingi mitra mulai dari kajian narasi Sri Tanjung, pelatihan literasi budaya, eksplorasi visual, pengembangan desain motif, hingga proses produksi batik.
Program tersebut menargetkan terciptanya sedikitnya lima motif Batik Sritanjung berbasis relief Candi Penataran yang selanjutnya diaplikasikan untuk menghasilkan sedikitnya 10 lembar kain batik sebagai karya awal dan prototipe pengembangan produk.
Selain mendorong inovasi produk, program ini melibatkan 10 peserta didik PKBM Mamba’ul Huda, terutama dari kalangan pemuda putus sekolah. Mereka akan mengikuti pelatihan dan praktik bersama perajin, mulai dari memahami nilai budaya Sri Tanjung hingga mempelajari proses produksi batik.
“Kami ingin ada proses regenerasi. Pemuda dilibatkan sebagai bagian dari proses kreatif agar mereka memiliki keterampilan baru dan melihat bahwa seni serta budaya lokal juga dapat menjadi ruang untuk berkarya dan membuka peluang ekonomi,” ujar Agus.
Bagi Batik Muktiyasa, kolaborasi ini diharapkan memperkuat kemampuan perajin dalam menciptakan motif berbasis riset budaya sekaligus membangun identitas produk melalui narasi atau storytelling budaya.
Ke depan, motif Sritanjung akan didorong menjadi bagian dari lini produk Batik Muktiyasa. Tim juga merancang kaderisasi pembatik muda serta publikasi dan pameran karya untuk memperluas diseminasi.
Melalui program ini, UNU Blitar berupaya menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, perajin, dan generasi muda diharapkan mampu menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkannya menjadi inovasi yang bernilai sosial dan ekonomi.